ilustrasi darah

WARTAMUSLIM.COM – Pembunuhan yang dilakukan atas dasar kebencian, di luar proses pengadilan, pembunuhan yang terjadi karena ketidaksukaan pada diri seseorang, pasti akan menyebabkan kegaduhan dan kerusakan di muka bumi.

 DALAM kitab Al-Kaba’air karya al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabiy atau yang sering disingkat dengan Imam Dzahabiy, terdapat daftar hitam dosa-dosa besar. Pada urutan pertama beliau menyantumkan dosa besar adalah menyekutukan Allah SWT. Syirik kepada Allah. Menyembah kepada selain Allah. Perbuatan ini merupakan dosa besar bahkan paling besarnya dosa yang dilakukan oleh seorang manusia. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang menyembah sesembahan selain Allah. Allah yang Maha Esa, hanya Allah yang berhak disembah, tiada tuhan selain Allah.

Syirik kepada Allah merupakan kezaliman terbesar dalam kehidupan seorang manusia yang melakukannya. Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13).

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Setelah menyantumkan syirik sebagai dosa besar di urutan pertama, selanjutnya Imam Adz-Dzahabiy menyebutkan daftar dosa besar yang kedua, yaitu menghilangkan nyawa manusia. Jika syirik hubungannya bersifat vertikal, dosa antara hamba dengan Tuhannya, maka menghilangkan nyawa manusia tanpa hak, adalah dosa besar yang bersifat horizontal.

Pembunuhan yang dilakukan atas dasar kebencian, di luar proses pengadilan, pembunuhan yang terjadi karena ketidaksukaan pada diri seseorang, pasti akan menyebabkan kegaduhan dan kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, Islam melarang keras aksi main hakim sendiri yang dilakukan kepada siapa saja, baik kepada orang yang dia sukai atau dia benci.

Dalam kitab Al-Kaba’air, dosa kedua ini mengandung kehinaan bagi pelakunya khususnya ketika mereka di alam akhirat. Dalam surat An-Nisaa’ ayat 93 disebutkan apa saja yang diterima oleh si pelaku pembunuhan. Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Dari ayat ini ada lima hukuman di akhirat  untuk para pembunuh

Pertama, dia dimasukkan ke dalam api neraka jahanam.  Kedua, pelakunya akan tinggal selama-lamanya di Neraka. Ketiga, mendapatkan murka Allah. Empat, jauh dari rahmat Allah, dan kelima,  dia akan mendapatkan siksa yang dahsyat nan pedih.

Tidak heran jika Rasulullah ﷺ mengkategorikan pembunuhan sebagai perbuatan yang membinasakan. Nabi ﷺ  bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!” Lalu beliau menyebut salah satunya membunuh seorang manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkanNya.

Jama’ah Salat Jum’at yang dimuliakan Allah

Kehinaan yang akan diberikan kepada para pembunuh yang disinggung dalam kitab Al-Kaba’air bahwa dosa menghilangkan nyawa manusia yang tidak bersalah seperti dosa membunuh seluruh umat manusia di muka bumi. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya.” (QS: Al-Ma’idah: 32).

Menghilangkan nyawa seorang mukmin dosanya lebih berat dari hancurnya dunia. Artinya, darah dan nyawa seorang mukmin harus dihormati, dijaga, tidak boleh ditumpahkan karena ia lebih mahal dari apa yang ada di dunia. Rasul ﷺ  bersabda:

لقتل مُؤمن أعظم عِنْد الله من زَوَال الدُّنْيَا

“Sungguh, pembunuhan atas seorang mukmin itu lebih besar dari pada luluh lantaknya dunia di sisi Allah.” (HR. Tirmidzi).

Jangankan menumpahkan darah orang beriman, kita juga dilarang menghilangkan nyawa orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kita atau disebut kafir dzimmi. Beliau, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad (terikat perjanjian damai) maka dia tidak akan dapat mencium wangi surga. Padahal harumnya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).

Mari kita renungkan, membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai, mendatangkan hukuman berupa tidak bisa mencium bau Surga, apalagi jika pembunuhan itu dilakukan kepada orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika untuk membunuh orang yang terikat perjanjian saja sedemikian halnya, lalu bagaimana dengan membunuh seorang Muslim?

Jama’ah yang dimuliakan Allah

Menurut Nabi, pelaku pembunuhan adalah orang yang putus asa dari rahmat Allah. Beliau bersabda:

مَن أعانَ علَى قَتلِ مؤمنٍ بشَطرِ كلِمةٍ لقيَ اللَّهَ عزَّ وجلَّ مَكْتوبٌ بينَ عَينَيهِ آيسٌ مِن رحمةِ اللَّهِ

“Barangsiapa membantu pembunuhan atas seorang muslim walau dengan sepenggal kata niscaya akan bertemu dengan Allah sedangkan di antara kedua matanya tertulis ‘orang yang putus asa dari rahmat Allah ta’ala’.” (HR:Ibnu Majah).

Siapa saja yang turut andil dalam aksi pembunuhan, baik pihak pemberi dana, pemberi senjata,  sutradaranya hingga eksekutor di lapangan, siapa pun yang punya andil, sekecil apapun andil dan sahamnya, kelak tertulis di antara kedua matanya, “Aayisun min Rahmatillaah (Orang yang putus asa dari rahmat Allah).”

Saudara-saudaraku sekalian

Dari uraian khutbah ini kita bisa menarik kesimpulan betapa besarnya dosa yang akan ditanggung kepada mereka yang membunuh tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Berapa beratnya beban yang dipikul oleh para pembunuh.

Hidupnya akan terisi kegelisahan, ketidakbahagiaan, kegundahan, wajah-wajah mukmin yang mereka bunuh akan terngiang-ngiang di benak para pembunuh dan pembantai sepanjang hidupnya. Kesusahan yang mereka rasakan akan lebih mereka rasakan di akhirat. Allah SWT tidak tidur. Allah Maha Tahu kekejaman dan kekejian yang telah mereka lakukan kepada orang-orang beriman yang telah mereka bunuh.

Semoga Allah SWT melindungi diri kita dan keluarga dari perbuatan yang keji agar kita selamat dari berbagai hukuman yang sangat menakutkan di akhirat itu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتِلَاوَتِهِ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ  فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَر، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَر.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْن، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَن وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

__________

Penulis, pengajar di Pesantren Daruttauhid Malang dan Anggota Bidang Dakwah Rabithah Alawiyah Jawa Timur

Disunting: hidayatullah.com