Ilustrasi Pria gemar berbohong

WARTAMUSLIM.COM– Tak ada kebohongan yang sempurna, niat membohongi satu orang atau lebih adalah perbuatan tercela, apalagi kebohongan-kebohongan ditujukan untuk mencari kekuasaan dan pamer kekuasaan dan ini dilakukan oleh orang yang gemar melakukan dengan segala cara untuk mencapai tujuan.

Kisah Nabi Yusuf salah satu memberikan pelajaran yang sangat penting dimana saudara-saudara Nabi Yusuf berhasil menyingkirkan Nabi Yusuf dengan membuangnya ke dalam sebuah sumur, maka mereka menunggu pulang hingga larut malam untuk memberitahukan kabar kematian Nabi Yusuf kepada Nabi Yakub ayah mereka agar air muka bohong mereka tidak terlihat dalam kegelapan di malam hari.

Mereka datang menghadap ayah mereka dengan mengarang cerita bohong bahwa Nabi Yusuf telah tewas di makan srigala dengan menghadirkan baju Nabi Yusuf yang berlumuran darah kepada ayah mereka sebagai barang bukti.

Demikian seperti firman-Nya wa ja’a ‘ala qamishihi bi damin kadzibin (وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ) “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu.””. (Rujuklah QS. YUSUF [12]: 18)

Pada saat menerima baju Nabi Yusuf, sang ayah langsung mengetahui kebohongan anak-anak-anaknya. Kenapa? Karena baju yang dihadirkan sebagai barang bukti yang berlumuran darah ternyata tanpa ada sobekan sedikitpun.

Logika sederhana, “Jika Nabi Yusuf dimakan srigala ketika memakai baju, mustahil baju tidak ada sobek sedikitpun. Namun, jika Nabi Yusuf dimakan srigala dalam keadaan sedang tidak memakai baju, maka bagaimana mungkin bajunya bisa berlumuran darah?”

Pesannya, sehebat apapun orang-orang licik menyusun cerita bohong untuk menutupi kejahatannya, maka pasti akan meninggalkan celah untuk menyingkap kebenaran dengan mudah karena memang tidak ada kebohongan yang sempurna.

Kebohongan-kebohongan yang dilakukan di malam hari biasanya berbentuk rekayasa mengendalikan rasa egois dan lelah mencari solusi sehingga lebih mudah menyusun rencana bersama untuk melakukan hal yang lebih penting.

Banyak peneliti yakin manusia mulai berbohong kepada satu sama lain segera setelah mereka menciptakan bahasa, terutama sebagai cara untuk menjadi lebih unggul.

“Berbohong itu sangat mudah dibandingkan dengan cara-cara lain untuk mendapatkan kekuasaan,” ujar Sisella Bok, pakar etika Universitas Harvard, kepada National Geographic.

Dalam artikel Sissela Bok yang dimuat di infed.org tentang kebohongan dan pilihan moral dalam kehidupan pribadi dan publik adalah penguatan yang sering dilakukan oleh orang kelompok atau golongan yang takut akan kekalahan dalam banyak hal.

Yang istimewa dari kebohongan yang membuat kita rela mencari semua jenis cara yang tidak berdusta untuk mencapai apa yang dicapai oleh kebohongan?

Apa yang dicapai oleh kebohongan adalah penipuan. Kaum moralis tidak pernah mengklaim bahwa semua penipuan itu salah, tetapi beberapa orang mengklaim bahwa semua kebohongan itu salah – dan bahkan jika kita tidak setuju dengan klaim mereka, kita dapat merasakan kekuatannya. Jadi tidak heran mereka kaum berkepentingan selalu berhasil.